BENIGN PROSTATIC HYPERTROPHIA (BPH)

kamis 26 Mei 2011

Jumlah penderita pembesaran kelenjar prostat di wilayah Lamongan cukup signifikan, namun pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini belum banyak, sehingga tidak sedikit masyarakat mengira penyakit ini merupakan salah satu penyakit kanker.

Guna menambah pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini, RSUD dr. Soegiri Lamongan menghadirkan dr. Asmani Sumarno, Sp.B. dalam Bincang Sehat Bersama (BSB) RSUD dr. Soegiri Lamongan, yang ditayangkan pada Kamis, 26 Mei 2011 di Citra Televisi Lamongan.

BENIGN PROSTATIC HYPERTROPHIA(BPH) atau biasa dikenal sebagai Hipertrofi prostat jinak adalah kelainan yang terdapat pada kelenjar prostat. Biasanya Pria yang mengalami penyakit ini usianya lebih darilima puluh tahun. Akibat pengaruh testoteron dan usia, ukuran prostat meningkat dan dapat menyebabkan penyumbatan keluarnya aliran air kemih. Sebenarnya Hipertrofia Prostat Jinak merupakan Hipeplasia Kelenjar Per Uretral Prostat dan bukan merupakan Pra Kanker

Mengeingat penyakit ini dipengaruhi beberapa faktor resiko umur dan hormon androgen, maka belum ada kejelasan dari sisi etilogi nya. Namun penegakan diagnosis dari BPH  bisa dilakukan apabila adanya beberapa gejala seperti keluhan susah BAK, gejala mual-mual ringan, bahkan memungkinkan semakin lama semakin berat. Dari proses BAK, pancaran melemah atau hanya menetes dan merasa tidak puas saat kencing.

Pada pasien dengan gejala gangguan urinaria bagian bawah dan pembesaran prostat sehingga mengarah pada Benigna Prostat Hipertrofi dan dilakukan penatalaksanaan open prostatektomi. Pasien BPH harus segera diberi tindakan terapi agar tidak timbul komplikasi.

Setelah penderita BPH, melalui pemeriksaan, baik dari Pemeriksaan Rontgen (Foto Polos Abdomen dan IVP) dan pemeriksaan USG Prostat. Penderita akan ditangani sesuai dengan derajat penyakit, yaitu :

  • DERAJAT I Penderita pada derajat ini, cukup ditangani dengan Obat-obatan pengahambat Adrenalin reasitas, misalnya Alfa → Alfazosin; Prazosin; Terazosin
  • DERAJAT II Penanganan dilakukan dengan TURP
  • DERAJAT III Penanganan dengan TURP, namun harus oleh operator yang berpengalaman
  • DERAJAT IV Pada kondisi ini pasien harus menjalani Operasi terbuka, agar tidak mengalami komplikasi lebih jauh (sis)
Pos ini dipublikasikan di coba. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s